Indonesia | Economics

Thursday, July 13, 2006

Antara dua kompetisi internasional

Minggu ini ada dua laporan "kontroversial" di media massa tentang keterlibatan wakil Indonesia di kompetisi internasional. Yang satu tak pernah masuk media massa konvensional, namun dalam waktu sekejap menyebar seperti api, setidaknya di kalangan kelas menengah Indonesia, dan menciptakan respons yang keras dari pembacanya. Berita lain, sama kontroversialnya, masuk ke media massa konvensional, namun hingga kini reaksinya masih saya tunggu.

Yang pertama, jika Anda masih belum juga menebak, adalah komentar Nadine Chandrawinata dalam kompetisi Miss Universe bahwa "Indonesia is a city". Yang kedua adalah ini... Setelah enam bulan berlatih, Tim Olimpiade Matematika Indonesia gagal bertanding karena... Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tidak mengurus dengan benar visa para siswa berbakat ini untuk pergi ke Slovenia. Bahwa yang pertama menimbulkan reaksi emosional, sementara yang kedua, hanya reaksi adem-adem ayem mengisyaratkan preferensi serta prioritas kelas menengah Indonesia.

Yang kedua ini yang, menurut saya, perlu diributkan. Apalagi, setelah membaca respons staf Depdiknas:

Menurut [Direktur Pembinaan SMA Depdiknas Sungkowo Mudjiamanu], kesalahan yang menyebabkan kegagalan pemberangkatan tim ini lebih karena faktor kultur birokrasi di negara bersangkutan. "Buktinya, di Kazakhstan yang juga belum punya kantor perwakilan di Indonesia, nyatanya bulan Mei lalu kita tetap bisa mengirim tim ke Olimpiade Fisika Asia ke sana," katanya.

Usai meresensi buku tentang budaya birokrasi dunia pendidikan Indonesia, respons ini terasa ironis. Lagi pula, kalau pun ada masalah budaya birokrasi di Slovenia, toh negara non-Eropa lain tetap bisa mengirimkan peserta mereka.

Alih-alih menunjukkan masalah kultur birokrasi Slovenia, jawaban ini justru menunjukkan masalah kultur birokrasi Indonesia, dalam hal ini Depdiknas. Bukannya mengakui kesalahan, melakukan refleksi dan introspeksi, dan mengambil tindakan terhadap pihak yang bersalah, kecenderungan birokrasi adalah melempar kesalahan ke pihak lain, dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan kemudian, kesalahan yang sama pun berulang dan berulang lagi...

4 Comments:

  • How ironic!

    By Blogger Puspini, at 7/15/2006 12:29:00 am  

  • mungkin diamnya khalayak dalam kasus ini bukan menunjukan preferensi kelas menengah kita. Mungkin ini masalah timing, mereka masih capek sama kasus Nadine. Mungkin masalah pilihan media, blog dan milis asik untuk nyela selebritis, kalo birokrat cukup dibrolin (atau didemo) di jalanan. Tapi saya yakin, kegeraman orang pada kasus ini tinggi sekali.

    By Blogger menjadi, at 7/15/2006 06:52:00 am  

  • buat menjadi:
    Semoga benar begitu.

    Saya hanya khawatir, ini cerminan ekspektasi yang rendah dari kelas menengah - begitu rendahnya, hingga berujung pada apatisme.

    Apatisme ini membuat birokrasi tidak lagi merasa perlu bertanggung jawab atas kebodohan mereka sendiri, dan menciptakan self-fulfilling prophecy.

    By Blogger Arya, at 7/15/2006 09:13:00 am  

  • It's also probably because Nadine is a such a 'light' topic compared to the scandalously incompetent Indonesian Depdiknas' aparatus...

    By Blogger Puspini, at 7/15/2006 10:16:00 am  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home