Indonesia | Economics

Wednesday, July 19, 2006

Seberapa buruknyakah birokrasi Slovenia?

Masih soal Olimpiade Matematika Internasional di Slovenia, alasan yang dipakai staf Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menutupi kelalaian dia (mereka?) adalah buruknya birokrasi Slovenia. Apa benar? Mengutip Steven Levitt (dengan sedikit modifikasi): birokrat boleh berbohong (atau sembarang menuduh), namun angka tidak pernah berbohong...

Dalam situs web International Mathematics Olympiad (IMO), panitia menyediakan daftar peserta Olimpiade Matematika tersebut. Tercantum 104 negara yang diundang mengikuti kompetisi ini. Dari 104 negara tersebut, warga di 52 negara di antaranya membutuhkan visa untuk masuk Slovenia. Dari 52 negara ini, enam di antaranya tidak menjawab undangan tersebut.

Maka, bisa dikatakan peserta dari 46 negara mengalami nasib serupa dalam hal kewajiban mengurus visa. Jika kesalahan ada pada birokrasi Slovenia, tentunya banyak peserta dari 46 negara ini yang bernasib sama. Kira-kira, dari empatpuluh enam, jumlah yang akhirnya tidak menghadiri kompetisi?

Untuk menjawab itu, saya mengambil data hasil kompetisi dari sini, lalu membuat daftar negara-negara yang akhirnya tidak ikut kompetisi dari empatpuluh enam yang harus membuat visa ini. Ternyata, hanya tiga negara yang akhirnya tidak ikut: Tunisia, Uni-Emirat Arab, dan ... Indonesia. Jika 43 dari 46 – atau lebih dari 93% – dari semua negara yang harus mengurus visa bisa mendapatkannya, seberapa buruknyakah birokrasi Slovenia? Atau, jangan-jangan justru harus dibalik: Ada masalah apa dengan tiga negara yang batal ikut serta ini?

Sudah waktunya para birokrat dipaksa bertanggungjawab atas tindakan dan kelalaian mereka secara individual. Budaya “lempar batu sembunyi tangan” di birokrasi harus diberantas. Apalagi, ketika korbannya adalah mereka yang sudah berjerih-lelah, mengorbankan enam bulan hidup mereka, demi mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Masyarakat, jurnalis, dan politisi Indonesia tidak boleh tinggal diam!

(UPDATE - 20/7/06): Menghadapi kemungkinan keluhan bahwa "birokrasi Slovenia hanya buruk pada negara yang tidak memiliki perwakilan diplomatis Slovenia", saya melakukan analisis tambahan. Dari situs web ini saya menghitung jumlah negara yang tidak memiliki kantor perwakilan Slovenia - Kedutaan maupun Konsulat. Dari 46 negara yang membutuhkan visa, 33 negara tidak memiliki kantor perwakilan Slovenia. Lebih dari 90% negara yang berada dalam kondisi seperti Indonesia ternyata mampu mengirimkan siswa berbakatnya ke Slovenia.

3 Comments:

  • good posting. saya sempat melakukan analisa yang sama cuma saya malas untuk bikin posting baru ttg hal ini. thanks udah angkat masalah ini. saya sudah tambah link ke posting ini dari posting saya ttg Slovenian visa.

    By Blogger mer, at 7/19/2006 05:20:00 pm  

  • Nothing like a good old muckraking to get to the bottom of an issue. Good job, Arya.

    By Blogger Ujang, at 7/20/2006 04:26:00 am  

  • Depdiknas telat ngurus visa, saya mah nggak heran karena memang di pegawai negri itu ada budaya "ujug2x" artinya nggak bakal di kerjain until the last minute/tiba2x malah ada kerjaan dadakan. Ini karena ttg olimpiade aja makanya kena sorot, padahal hal2x gini (telat ngurus, telat/batal berangkat dll) banyak terjadi di departemen manapun.

    By Anonymous Babe, at 7/20/2006 09:08:00 am  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home