Indonesia | Economics

Saturday, July 15, 2006

Freakonomics: Ekonomi dalam sekotak cokelat

Sesuai janji saya sebelumnya, berikut resensi Freakonomics di Kompas hari ini. Untuk kontroversi menarik salah satu temuan Levitt, lihat di sini.


Freakonomics
oleh Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner ▪ Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Juli 2006 ▪ 256 halaman.



Ekonomi dalam sekotak cokelat

(Kompas, 16/7) Forrest Gump, karakter film tak terlupakan dari era 90-an, terkenal dengan adagiumnya: "Life is like a box of chocolate. You never know what you’re gonna get". Andai Forrest Gump bisa membaca Freakonomics, mungkin adagiumnya akan ditambahkan oleh dia: "Freakonomics is also like a box of chocolate...."

Ditulis oleh kolaborasi Steven Levitt, ekonom muda berbakat dari Universitas Chicago; dengan Stephen Dubner, jurnalis untuk harian New York Times dan majalah The New Yorker, Freakonomics bagai sekotak cokelat dengan enam rasa—satu untuk setiap babnya. Walau "bahan dasar" dari keenam rasa itu sama, setiap rasa yang muncul di setiap bab tetap unik. Dan, maka, amat menarik.

Namun sebelumnya, ada sedikit keberatan tentang subjudul buku: "Ekonom ’nyeleneh’ membongkar sisi tersembunyi segala hal." Istilah ’nyeleneh’ mengesankan buku ini adalah karya dari seorang ekonom "luar jalur", non-konvensional, non-ortodoks. Ini kesan yang keliru. Alih-alih, prinsip yang menjadi "bahan dasar" buku ini, bahwa orang merespons insentif, adalah prinsip ekonomi ortodoks yang menjadi jantung ilmu ekonomi modern.

Mengapa keberatan ini? Karena harapannya, ketika Anda menikmati perjalanan bersama Freakonomics—dan kemungkinan besar begitu—akan tergerus mitos bahwa ilmu ekonomi itu membosankan. Siapa tahu setelah Anda menemukan kesamaan antara guru dan pegulat sumo, Ku Klux Klan dan agen real estat, atau seberapa penting peran orangtua bagi masa depan anak, Anda jadi berpikir: wah, ternyata ekonomi itu menarik juga!

Guru dan pegulat sumo
Ada setidaknya dua kesamaan antara guru dan pegulat sumo. Pertama, kedua profesi ini amat dihormati dalam masyarakatnya. Dalam kebanyakan budaya, guru mendapatkan tempat khusus sebagai penanam nilai-nilai luhur dalam diri generasi masa depan. Sementara di negeri asalnya, Jepang, sumo dianggap sakral dan tidak dilihat sebagai sekadar kompetisi olahraga, melainkan soal kehormatan.

Karena tempat khususnya ini, hal kedua yang membuat keduanya serupa jadi mengusik: bahwa, sehari-hari, kedua profesi ini penuh kecurangan. Tuduhan tentang adanya kecurangan dalam kedua profesi ini adalah jamak dan kerap terdengar. Namun, tuduhan tanpa bukti tidak ada artinya—dan bukti sulit didapat karena komunitas profesi, baik di sekolah maupun di lapangan, kerap melindungi para pelaku.

Untungnya, kata Levitt, "guru, kriminal, dan agen real estat bisa berdusta... namun angka tidak mungkin berbohong". Dengan sedikit statistik dan imajinasi, Levitt membuktikan bahwa pelbagai tuduhan itu lebih dari sekadar rumor.

Levitt dan rekan-rekannya mulai dengan pertanyaan: Kapan guru dan pegulat sumo memutuskan berbuat curang, dan dengan cara apa? Setelah puas dengan rekonstruksi, atau "model", mereka tentang cara yang dipakai untuk berbuat curang, mereka pun mencari cara (dan data) untuk mengukur kecurangan tersebut.

Saya tidak akan menceritakan model Levitt dkk mendeteksi kecurangan: Anda harus membacanya sendiri. Seorang teman, seusai membaca buku ini, berkomentar: "Ah, ternyata sederhana, biasa saja!" Justru itu intinya: solusi ini elegan karena sederhana, tetapi tak terpikir sebelumnya. Seperti telur Columbus, solusi Levitt adalah "hal yang paling sederhana di dunia. Semua dapat melakukannya, setelah ada yang menunjukkan caranya!"

Model Levitt dkk mampu menunjukkan, misalnya, bahwa sekitar 5 persen guru di seluruh Chicago telah mengubah jawaban para murid untuk meningkatkan kelulusan pada ujian akhir. Temuan yang awalnya sebuah makalah akademis ini menjadi alat praktis ketika Dinas Pendidikan Kota Chicago menggunakannya untuk mendeteksi (serta memecat) guru-guru yang curang. Setahun kemudian, kecurangan di sekolah-sekolah Chicago pun turun 30 persen.

Orangtua yang baik
Jika gurunya saja suka curang, Anda mungkin menggerutu, tak heran jika muridnya tidak maju. Namun, janganlah terlalu menyalahkan guru. Peran orangtua lebih penting bagi perkembangan anak. Anak yang diasuh baik oleh orangtuanya akan tumbuh dengan lebih baik, lebih berprestasi di sekolah, serta punya masa depan yang lebih baik. Sementara anak yang diabaikan orangtua akan memiliki prestasi yang lebih buruk. Bukan begitu?

Peran pengasuhan orangtua pada perkembangan anak adalah sesuatu yang diyakini semua orang sebagai benar—setidaknya, sampai Judith Rich Harris menunjukkan dalam makalah yang kemudian menjadi buku The Nurture Assumption bahwa bukti ilmiah di balik keyakinan ini lemah. Tulisan Harris menciptakan kontroversi, terutama di kalangan psikolog perkembangan anak, yang selama ini membangun teori mereka di atas keyakinan ini.

Namun, apa pula urusan ekonom di sini? Dalam hal apa ilmu ekonomi bisa menyumbang bagi kontroversi yang jelas-jelas berada di luar ranah ilmunya? Jawabnya: Dalam memberikan bukti atas dua hipotesis di balik perdebatan ini, yakni bahwa pengasuhan penting (atau tidak) dalam prestasi anak. Ilmu ekonomi — tepatnya, ilmu ekonomi statistik atau ekonometrika — bisa menunjukkan hipotesis mana yang lebih didukung oleh data.

Ini dimungkinkan oleh adanya data Early Child Longitudinal Study (ECLS) yang menelusuri kemajuan akademis lebih dari 20.000 anak di seluruh Amerika. ECLS mengumpulkan satu set data yang amat kaya, mulai dari prestasi akademis, karakteristik sosial-ekonomi orangtua, bahkan hingga praktik-praktik pengasuhan anak di rumah.

Berbekal set data yang amat kaya dan pengetahuan ilmu ekonomi statistik, mulailah Levitt dkk "bertanya" kepada data mereka tentang faktor-faktor yang memengaruhi prestasi anak. Pendidikan orangtua? (Ya); keutuhan keluarga orangtua? (Tidak); ketersediaan banyak buku di rumah? (Ya); ketekunan orangtua membacakan buku bagi anak? (Tidak). Dan seterusnya, dan seterusnya.

Setelah menanyakan sekian banyak pertanyaan, apakah bukti membantah tesis Harris dan menunjukkan pentingnya peran orangtua bagi prestasi anak? Silakan temukan sendiri jawabannya. Sedikit petunjuk: Belum tentu "semua orang" itu benar.

Informasi, kriminalitas, dan... nama anak?
Resensi ini baru saja memberi Anda kesempatan untuk mencicipi dua dari enam rasa yang ditawarkan Freakonomics. Dari empat yang tersisa, satu bercerita tentang bagaimana eksploitasi informasi dapat digunakan untuk mengambil keuntungan diri sendiri, atau memerangi kepicikan. Dua di antaranya tentang kriminalitas. Satu lagi tentang hubungan antara nama dan masa depan anak.

Dalam memaparkan penelitian yang, sekilas, tidak berhubungan dan kurang serius, Freakonomics punya pesan penting: Insentif penting untuk mengerti perilaku manusia. Di sini, "insentif" bukan melulu uang, melainkan apa pun yang "mendorong orang melakukan lebih banyak hal yang baik dan sedikit hal yang tidak baik", termasuk di dalamnya insentif ekonomi, moral (dari dalam diri), dan sosial (dari masyarakat).

Ini pulalah sebenarnya pesan dari ilmu ekonomi modern—pesan yang sering kali tenggelam dalam diskusi para pakar tentang suku bunga, nilai tukar, dan inflasi. Secara apik dan dalam kemasan yang menarik (walaupun kadang cacat oleh terjemahan yang kurang cermat), Freakonomics berhasil menyampaikan pesan ini. Karena itu, saya pikir benar: Freakonomics memang mirip sekotak cokelat — dan siapa sih yang tidak suka cokelat?

7 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home