Indonesia | Economics

Saturday, December 18, 2004

Resensi buku: Kemiskinan dan peran pengusaha

Pengusaha kerap dianggap kurang berpartisipasi memerangi kemiskinan lewat amal. C.K. Prahalad menunjukkan ada cara lain agar upaya swasta berkelanjutan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.


The Fortune at the Bottom of the Pyramid: Eradicating Poverty through Profits. Oleh CK Prahalad. Wharton School Publishing, 2004. 496 halaman + CD-Rom

(, 19 Desember 2004) Wacana tentang pengentasan kemiskinan kerap didominasi kritik terhadap kurangnya peran swasta, khususnya pengusaha, dalam "perang terhadap kemiskinan". Pengusaha dianggap kurang beramal, kurang menyumbang keuntungan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Karena itu, pemerintah dan banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) gigih mengimbau, termasuk melalui inisiatif corporate social responsibility (CSR) yang akhir-akhir ini banyak bergema.

Namun, pendekatan pemberantasan kemiskinan seperti ini sering menemui jalan buntu. Karena amal sering kali dilihat sebagai beban, pengusaha hanya beramal sejauh imbauan pemerintah dan LSM tanpa usaha mengembangkannya. Maka, sering kali pendekatan ini cenderung tidak berkelanjutan, apalagi karena umumnya amal tidak memberdayakan kapasitas ekonomi sang miskin.

Kebuntuan ini menciptakan frustrasi dan kekecewaan, berujung pada tuduhan bahwa pengusaha mencari keuntungan tanpa peduli sosial. Di lain pihak, pengusaha pun merasa amal yang diminta berlebihan, lebih daripada yang bisa dipertanggung-jawabkan kepada pemilik perusahaan. Selain itu, karena dianggap tidak memberi keuntungan menjanjikan, banyak perusahaan ragu menaruh perhatian khusus pada kelompok miskin sebagai target pasar utama.

Buku terbaru CK Prahalad, The Fortune at the Bottom of the Pyramid (TFBOP), yang dikembangkan dari tulisannya bersama Stuart Hart, menawarkan jalan keluar dari kebuntuan ini. Lewat analisis tajam dan studi-studi kasus yang mengesankan, Profesor Strategi Korporasi dan Bisnis Internasional dari University of Michigan Business School ini mendobrak batasan antara upaya memenuhi kebutuhan masyarakat miskin dan pencarian keuntungan: keduanya bisa berdampingan demi pemberdayaan masyarakat miskin yang berkelanjutan.

***

Pertanyaan awal yang patut diungkapkan, mengapa muncul kebuntuan semacam ini? Kebuntuan ini, menurut Prahalad, berakar dari paradigma yang mempertentangkan keuntungan dan penyediaan kebutuhan orang miskin. Pengusaha beranggapan keuntungan dari upaya memenuhi kebutuhan khusus masyarakat miskin tidak sebanding. Sementara ada anggapan bahwa pemberantasan kemiskinan harus bersifat sosial, tanpa pamrih; pengusaha yang besar dengan menyediakan kebutuhan kaum miskin selalu dilirik penuh curiga.

Anggapan umum ini meremehkan potensi ekonomi yang dimiliki kaum miskin dan Prahalad menunjukkan kekeliruan anggapan ini. "Jika kita berhenti menganggap sang miskin sebagai korban atau beban dan mulai melihat mereka sebagai pengusaha yang ulet dan kreatif serta konsumen yang selalu mencari penawaran terbaik... [maka] empat miliar orang miskin dapat menjadi motor dari... kesejahteraan dunia" (hal 1).

Prahalad menunjukkan bahwa potensi ekonomi kelompok miskin, yang diberinya istilah bottom of the pyramid (BOP), sebagai kontras atas yang terkaya di puncak piramida ekonomi, tak bisa diremehkan. Dalam jumlah saja, empat miliar orang miskin di dunia-dan lebih dari 30 juta di Indonesia- adalah pasar potensial yang besar. Dari sudut daya beli riil, potensi pasar BOP bernilai lebih dari 13 triliun dollar AS, melebihi nilai total pasar Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, dan Italia.

Banyak perusahaan mulai menyadari potensi pasar BOP; namun, kebanyakan beranggapan penetrasi ke pasar BOP dapat dilakukan dengan modifikasi kecil atas produk yang sudah ada. Prahalad menunjukkan kelirunya anggapan ini. Kerap, kebutuhan konsumen BOP begitu unik sehingga kesuksesan menembus pasar BOP menuntut inovasi khusus yang menomorsatukan kebutuhan sang miskin sebagai konsumen dan pelaku ekonomi.

Buku ini juga menunjukkan bahwa sering kali modifikasi produk yang ada tidak cukup bagi konsumen BOP. Keterbatasan sumber daya konsumen BOP menciptakan kebutuhan yang begitu spesifik. Studi-studi kasus dalam buku ini menunjukkan bahwa kesuksesan merengkuh konsumen-konsumen BOP ditentukan besarnya perhatian terhadap kebutuhan spesifik mereka itu, mulai dari kebutuhan kredit sampai dengan kebutuhan akan produk berkualitas dan pelayanan yang dapat dipercaya.

Perhatian saksama ini, di satu pihak menciptakan keuntungan bagi pengusaha. Di lain pihak, konsumen miskin dalam pasar BOP juga diuntungkan karena mendapat kesempatan meningkatkan kualitas hidup mereka. Pelbagai inovasi yang dipaparkan dalam buku ini memperlihatkan kualitas kesehatan, tempat tinggal, aset, serta pelayanan yang meningkat akibat partisipasi swasta menyediakan produk dan pelayanan bagi konsumen BOP.

Namun, keuntungan terpenting adalah dihargainya masyarakat miskin sebagai pelaku ekonomi, dan bukan sekadar penerima amal. "When the poor at the BOP are treated as consumers, they can reap the benefit of respect, choice, and self-esteem and have an opportunity to climb out of the poverty trap" (hal 99). Aktivitas swasta di pasar BOP memberdayakan; bahwa pengusaha mendapatkan keuntungan dengan memenuhi kebutuhan sang miskin memberlanjutkan pemberdayaan ini.

***

Sebenarnya, banyak dari inovasi yang dipaparkan buku ini tidak baru di Indonesia. Inovasi microfinancing, misalnya, sudah lama dijalankan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan hasil yang amat memuaskan. Kampanye-kampanye kesehatan publik yang dilakukan perusahaan produk-produk konsumen, misalnya, meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama yang miskin, tentang gaya hidup bersih dan sehat. Kesuksesan pelbagai inovasi ini membuktikan dapat diterapkannya resep-resep dalam buku ini di Indonesia. Dengan 16 persen penduduk di bawah garis kemiskinan, kesempatan berkiprah di pasar BOP di Indonesia jelas terbuka lebar.

Dalam kajiannya, sebagaimana yang dipaparkan dalam buku ini, ada empat prasyarat penting sukses di pasar ini. Pertama, kemampuan konsumsi sang miskin harus diberdayakan, bukan dengan amal, melainkan dengan inovasi pendanaan. Kedua, produk dan pelayanan baru perlu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan spesifik mereka. Ketiga, penting untuk tidak meremehkan harga diri dan pilihan para pelaku ekonomi BOP. Keempat, perlu dibangun rasa percaya-apalagi mengingat begitu seringnya kepercayaan masyarakat miskin dikecewakan.

Sebagai sebuah buku strategi bisnis, ini merupakan buku yang amat berharga bagi pengusaha, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Bukan hanya mereka yang perlu membacanya-pejabat pemerintah, LSM, dan siapa pun yang peduli pengentasan kaum miskin perlu belajar dari pengalaman dalam buku ini.

Selama ini pencarian keuntungan kerap disamakan dengan perilaku antisosial; maka tak heran jika penolakan terhadap keterlibatan swasta menyediakan kebutuhan masyarakat miskin begitu gencar. Padahal, pengalaman menunjukkan, justru keuntungan inilah yang memungkinkan kemitraan antara pengusaha dan sang miskin "untuk berinovasi dan mencapai win-win scenarios yang berkelanjutan" (hal 3).

Oleh karena itulah pemerintah dan LSM perlu mengubah paradigma tentang keterlibatan pengusaha memberantas kemiskinan. Alih-alih pendekatan amal, pendekatan seperti inilah yang harus dipupuk. Sinergi antara pemerintah, LSM, dan pengusaha akan memunculkan inovasi-inovasi baru yang menguntungkan semua, hingga pada akhirnya mampu memberdayakan sang miskin secara berkelanjutan.

3 Comments:

  • Memang mantab nih bos bukunya...biar lengkap, harus baca bukunya John Perkins yang baru juga...everything is a set.

    By Blogger Aggy Erlangga, at 7/19/2007 01:32:00 am  

  • Lg iseng nyari resensi buku ttg kemiskinan, ketemulah dgn blog ini. Buku yg menarik, apalagi jk diterapkan dlm kebijakan PKBL (Program Kemitraan & Bina Lingkungan) -CSRnya BUMN-. Boleh tau bgmn bs dapetin buku ini, exc Amazon?

    fyi: saya mhsw IE-FEUI, interest: poverty

    By Blogger Erwin, at 7/19/2008 04:37:00 pm  

  • Erwin:
    Buku ini sudah diterjemahkan dan, jika stoknya masih ada, mustinya ada di Gramedia. Untuk Bahasa Inggris (lagi-lagi, kalau stok masih ada) ada versi paperbacknya di Periplus (Plaza Senayan). Mungkin buku yang sama ada juga ada di Kinokuniya atau Aksara.

    By Blogger Arya Gaduh, at 7/19/2008 05:59:00 pm  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home